Kamis, 07 November 2019

Menganalisa Menggosok Gigi Asyik dengan Lagu ( MOGIGU ) pada Anak Usia 5 Tahun

BAB I
PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang
Gigi adalah salah satu bagian terpenting bagi kehidupan manusia. Di Indonesia kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat masih sangat perlu diperhatikan, penyakit gigi dan mulut di Indonesia masih berada pada posisi sepuluh besar penyakit terbanyak yang terbesar diberbagai wilayah (Mikail,B., & Candra 2011).


Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 masalah kesehatan gigi dan mulut tergolong tinggi, bahwa sebesar 25,9% penduduk Indonesia mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir. Angka prevelensi tertinggi terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut terdapat di provinsi Kalimantan Selatan 36,1%, peringkat ke-2 Sulawesi Tengah 35,6%, dan diikuti provinsi Sulawesi Selatan 32,6% peringkat ke-3 dengan masalah kesehatan gigi dan mulut. Pada Provinsi Sulawesi Selatan Sekitar 22% anak usia 5-9 tahun dan 21% anak usia 10-14 tahun bermasalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya, dan masing-masing sekitar 31%, hanya 27% yang mendapatkan perawatan (Riskesdas, 2013).
Menurut data Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2017 di dapatkan pada bulan Januari yang mempunyai masalah kebersihan gigi tertinggi pada puskesmas Anper dengan jumlah 1036 anak, pada bulan Februari yang mempunyai masalah kebersihan gigi tertinggi pada puskesmas Kalukubodoa dengan jumlah 520 anak, dan pada bulan Maret yang mempunyai masalah kebersihan gigi tertinggi pada puskesmas Kalukubodoa dengan jumlah 636 anak. Dapat dilihat bahwa masalah kesehatan gigi yang tertinggi dua kali berturut-turut pada puskesmas Kalukubodoa, selain itu juga terdapat peningkatan jumlah masalah kebersihan gigi dan mulut pada puskesmas tersebut pada bulan Februari ke Maret.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara komprehensif karena dampaknya sangat luas sehingga perlu penanganan segera sebelum terlambat, kebiasaan menggosok gigi merupakan hal terpenting, berdasarkan data waktu menyikat gigi menunjukkan bahwa perilaku pelihara dari masyarakat Indonesia dalam kesehatan mulut masih sangat rendah. Hal ini ditunjukkan oleh data bahwa 91,1% penduduk Indonesia sudah menyikat gigi, namun hanya 7,3% yang berperilaku benar dalam menyikat gigi.
Kebersihan gigi dan mulut adalah suatu keadaan dimana gigi geligi yang berada didalam rongga mulut dalam keadaan yang bersih, bebas dari plak, dan kotoran lain yang berada diatas permukaan gigi seperti debris, karang gigi, dan sisa makanan serta tidak tercium bau busuk dalam mulut. Keterampilan menggosok gigi harus di ajarkan dan ditekankan pada adak disegala umur terutama anak sekolah, karena pada usia itu mudah menerima dan menanamkan nilai-nilai dasar. Anak sekolah memerlukan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menggosok gigi. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya yang penting untuk menunjang kesehatan, terutama pada anak yang memiliki tingkat kebersihan gigi mulut rendah dan keterampilan dalam menggosok gigi kurang, diharapkan agar dapat mengubah perilaku dari yang merugikan kesehatan dan norma yang sesuai dengan kesehatan (Dewi, Sekar Arum 2011).
Upaya kesehatan gigi perlu ditinjau dari aspek lingkungan, pengetahuan, pendidikan, kesadaran masyarakat dan penanganan kesehatan gigi termasuk pencegahan dan perawatan. Namun sebagian besar orang mengabaikan kondisi kesehatan gigi secara keseluruhan. Perawatan gigi dianggap tidak terlalu penting, padahal manfaatnya sangat vital dalam menunjang kesehatan dan penampilan (Pratiwi, 2007).
Ciri-ciri gigi sehat yaitu tidak terasa sakit radang gusi dan karang gusi, tidak ada karies, saat mengunyah tidak terasa nyeri, leher gigi tidak kelihatan, tidak goyang, tidak terdapat plak, warna gigi putih kekuningan, tidak terdapat karang, mahkota gigi utuh. Pada umumnya kebersihan gigi anak lebih buruk dan anak lebih banyak yang salah dalam menggosok giginya yang menyebabkan karies dibandingkan orang dewasa. Peran orang tua dalam membimbing dan mendisiplinkan anak untuk melatih pemeliharaan kesehatan gigi dengan menyikat gigi secara baik dan benar. Karena pada umumnya kebiasaan anak dalam menyikat gigi hanyalah bertujuan untuk menyegarkan mulut saja, bukan karena mengerti bahwa hal tersebut baik untuk kesehatan gigi, sehingga anak cenderung menyikat gigi dengan semaunya sendiri. Besarnya peran orang tua sangat diperlukan dalam menjaga kesehatan gigi anak-anaknya agar tercapai kesehatan gigi yang optimal.
Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran praktik kebersihan gigi dan mulut pada anak usia sekolah. Diantaranya metode simulasi dan metode audiovisual. Metode simulasi diartikan sebagai cara penyajian pengajaran dengan menggunakan situasi tiruan untuk menggambarkan situasi sebenarnya agar diperoleh pemahaman tentang hakikat suatu konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Hal ini sejalan dengan penelitian Sunariyo (2015) dengan judul penelitian pengaruh metode simulasi dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar ilmu pengetahuan, yang mengatakan bahwa metode simulasi berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.
Metode Audio Visual merupakan alat peraga yang bersifat dapat didengar dan dapat dilihat yang dapat membantu siswa dalam belajar mengajar yang berfungsi memperjelas atau mempermudah dalam memahami bahasa yang sedang dipelajari. Hal ini sejalan dengan penelitian Ika dan Iwan pada tahun (2014) dengan judul penelitian pengaruh media audio visual (Video) terhadap hasil belajar siswa, yang mengatakan bahwa menggunakan metode Audio visual lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional.
2.        Tujuan
Untuk mengetahui tingkat keterampilan menggosok gigi pada anak umur 5 tahun sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan melalui metode audiovisual (lagu mogigu cara menyikat gigi asyik dengan lagu) dan simulasi.

BAB II
PEMBAHASAN

a.         Keterampilan
Keterampilan merupakan seperangkat system, suatu metode dan suatu teknik yang baik, untuk menguasai materi ilmu pengetahuan yang akan disampaikan secara tangkas, efektif, serta efisien. Keterampilan juga merupakan suatu keahlian yang di dapat oleh individu melalui suatu proses seperti latihan yang kontinyu serta mencakup beberapa aspek yaitu kognitif, efektif, dan psikomotor, Budiarjo (Sisca Folastri, 2013).
b.        Menggosok Gigi
Menggosok gigi adalah membersihkan gigi dari sisa makanan yang menempel, bakteri, dan plak. Membersihkan gigi harusnya melihat pelaksanaan waktu dalam membersihkan gigi, menggunakan alat yang cocok untuk membersihkan gigi, dan tata cara yang tepat dalam membersihkan gigi. Kebiasaan menggosok gigi merupakan perilaku manusia didalam membersihkan gigi dari sisa makanan secara terus menerus.
Menggosok gigi yang baik yaitu dengan gerakan yang pendek dan lembut serta dengan tekanan yang ringan, pusatkan pada daerah yang terdapat plak, yaitu tepi gusi (perbatasan gigi dan gusi), permukaan kunyah gigi dimana terdapat fissure atau celah-celah yang sangat kecil dan sikat gigi yang paling belakang. Menggosok gigi harus memiliki pegangan yang lurus, dan memiliki bulu yang cukup kecil untuk menjangkau semua bagian mulut. Menggosok gigi harus diganti setiap 3 bulan. Cara menggosok gigi yang baik adalah membersihkan seluruh bagian gigi, gerakan vertical, dan bergerak lembut  Ketika menggosok gigi, sangat penting menyikat semua permukaan gigi, yang mana akan memakan waktu kurang lebih 2-3 menit (Rahmadhan, 2010).
c.         Media audio visual
Media audio visual merupakan alat peraga yang bersifat dapat didengar dan dapat dilihat yang dapat membantu siswa dalam belajar mengajar yang berfungsi memperjelas atau mempermudah dalam memahami bahasa yang sedang dipelajari. Sedangkan audio visual adalah suatu peralatan yang dipakai oleh para guru dalam menyampaikan konsep, gagasan dan pengalaman yang ditangkap oleh indera pandang dan pendengaran.
Konsep pengajaran audio visual berkembang sejak tahun 1940. Istilah bermakna sejauh peralatan yang dipakai oleh para guru yang dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang ditangkap oleh indra pandang dan pendengar, penekanan utama dalam pengajaran audio visual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman kongkrit, tidak hanya didasarkan atas kata belaka, selanjutnya pengajaran dengan media audio visual dapat berarti bila dipergunakan sebagai bagian dari proses pengajaran, peralatan audio visual tidak harus digolongkan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh dari pengindraan pandang dan dengar, tetapi sebagai alat teknologi yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman kongkrit kepada siswa.
Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Di samping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, dan mendatakan informasi.
A.    Ciri-ciri metode media visual :
1.      Media audio visual biasanya bersifat linier.
2.      Biasanya menyajikan visual yang dinamis.
3.      Digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang atau pembuatnya.
4.      Merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak.
5.      Dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan kognitif.
Peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Apabila diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisi.

ANALISA PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL

Media yang digunakan dan cara penggunaannya :
·         Media yang digunakan :
1. Hand phone

·         Cara penggunannya :
Metode Audio Visual menggunakan Video yang diputar menggunakan Hand phone . Pemberian intervensi 7 hari berturut turut, dilakukan selama 2-3 menit.

BAB I
PENDAHULUAN

1.        Latar Belakang
Gigi adalah salah satu bagian terpenting bagi kehidupan manusia. Di Indonesia kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat masih sangat perlu diperhatikan, penyakit gigi dan mulut di Indonesia masih berada pada posisi sepuluh besar penyakit terbanyak yang terbesar diberbagai wilayah (Mikail,B., & Candra 2011).
Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 masalah kesehatan gigi dan mulut tergolong tinggi, bahwa sebesar 25,9% penduduk Indonesia mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir. Angka prevelensi tertinggi terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut terdapat di provinsi Kalimantan Selatan 36,1%, peringkat ke-2 Sulawesi Tengah 35,6%, dan diikuti provinsi Sulawesi Selatan 32,6% peringkat ke-3 dengan masalah kesehatan gigi dan mulut. Pada Provinsi Sulawesi Selatan Sekitar 22% anak usia 5-9 tahun dan 21% anak usia 10-14 tahun bermasalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya, dan masing-masing sekitar 31%, hanya 27% yang mendapatkan perawatan (Riskesdas, 2013).
Menurut data Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2017 di dapatkan pada bulan Januari yang mempunyai masalah kebersihan gigi tertinggi pada puskesmas Anper dengan jumlah 1036 anak, pada bulan Februari yang mempunyai masalah kebersihan gigi tertinggi pada puskesmas Kalukubodoa dengan jumlah 520 anak, dan pada bulan Maret yang mempunyai masalah kebersihan gigi tertinggi pada puskesmas Kalukubodoa dengan jumlah 636 anak. Dapat dilihat bahwa masalah kesehatan gigi yang tertinggi dua kali berturut-turut pada puskesmas Kalukubodoa, selain itu juga terdapat peningkatan jumlah masalah kebersihan gigi dan mulut pada puskesmas tersebut pada bulan Februari ke Maret.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara komprehensif karena dampaknya sangat luas sehingga perlu penanganan segera sebelum terlambat, kebiasaan menggosok gigi merupakan hal terpenting, berdasarkan data waktu menyikat gigi menunjukkan bahwa perilaku pelihara dari masyarakat Indonesia dalam kesehatan mulut masih sangat rendah. Hal ini ditunjukkan oleh data bahwa 91,1% penduduk Indonesia sudah menyikat gigi, namun hanya 7,3% yang berperilaku benar dalam menyikat gigi.
Kebersihan gigi dan mulut adalah suatu keadaan dimana gigi geligi yang berada didalam rongga mulut dalam keadaan yang bersih, bebas dari plak, dan kotoran lain yang berada diatas permukaan gigi seperti debris, karang gigi, dan sisa makanan serta tidak tercium bau busuk dalam mulut. Keterampilan menggosok gigi harus di ajarkan dan ditekankan pada adak disegala umur terutama anak sekolah, karena pada usia itu mudah menerima dan menanamkan nilai-nilai dasar. Anak sekolah memerlukan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menggosok gigi. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya yang penting untuk menunjang kesehatan, terutama pada anak yang memiliki tingkat kebersihan gigi mulut rendah dan keterampilan dalam menggosok gigi kurang, diharapkan agar dapat mengubah perilaku dari yang merugikan kesehatan dan norma yang sesuai dengan kesehatan (Dewi, Sekar Arum 2011).
Upaya kesehatan gigi perlu ditinjau dari aspek lingkungan, pengetahuan, pendidikan, kesadaran masyarakat dan penanganan kesehatan gigi termasuk pencegahan dan perawatan. Namun sebagian besar orang mengabaikan kondisi kesehatan gigi secara keseluruhan. Perawatan gigi dianggap tidak terlalu penting, padahal manfaatnya sangat vital dalam menunjang kesehatan dan penampilan (Pratiwi, 2007).
Ciri-ciri gigi sehat yaitu tidak terasa sakit radang gusi dan karang gusi, tidak ada karies, saat mengunyah tidak terasa nyeri, leher gigi tidak kelihatan, tidak goyang, tidak terdapat plak, warna gigi putih kekuningan, tidak terdapat karang, mahkota gigi utuh. Pada umumnya kebersihan gigi anak lebih buruk dan anak lebih banyak yang salah dalam menggosok giginya yang menyebabkan karies dibandingkan orang dewasa. Peran orang tua dalam membimbing dan mendisiplinkan anak untuk melatih pemeliharaan kesehatan gigi dengan menyikat gigi secara baik dan benar. Karena pada umumnya kebiasaan anak dalam menyikat gigi hanyalah bertujuan untuk menyegarkan mulut saja, bukan karena mengerti bahwa hal tersebut baik untuk kesehatan gigi, sehingga anak cenderung menyikat gigi dengan semaunya sendiri. Besarnya peran orang tua sangat diperlukan dalam menjaga kesehatan gigi anak-anaknya agar tercapai kesehatan gigi yang optimal.
Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran praktik kebersihan gigi dan mulut pada anak usia sekolah. Diantaranya metode simulasi dan metode audiovisual. Metode simulasi diartikan sebagai cara penyajian pengajaran dengan menggunakan situasi tiruan untuk menggambarkan situasi sebenarnya agar diperoleh pemahaman tentang hakikat suatu konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Hal ini sejalan dengan penelitian Sunariyo (2015) dengan judul penelitian pengaruh metode simulasi dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar ilmu pengetahuan, yang mengatakan bahwa metode simulasi berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.
Metode Audio Visual merupakan alat peraga yang bersifat dapat didengar dan dapat dilihat yang dapat membantu siswa dalam belajar mengajar yang berfungsi memperjelas atau mempermudah dalam memahami bahasa yang sedang dipelajari. Hal ini sejalan dengan penelitian Ika dan Iwan pada tahun (2014) dengan judul penelitian pengaruh media audio visual (Video) terhadap hasil belajar siswa, yang mengatakan bahwa menggunakan metode Audio visual lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional.
2.        Tujuan
Untuk mengetahui tingkat keterampilan menggosok gigi pada anak umur 5 tahun sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan melalui metode audiovisual (lagu mogigu cara menyikat gigi asyik dengan lagu) dan simulasi.

BAB II
PEMBAHASAN

a.         Keterampilan
Keterampilan merupakan seperangkat system, suatu metode dan suatu teknik yang baik, untuk menguasai materi ilmu pengetahuan yang akan disampaikan secara tangkas, efektif, serta efisien. Keterampilan juga merupakan suatu keahlian yang di dapat oleh individu melalui suatu proses seperti latihan yang kontinyu serta mencakup beberapa aspek yaitu kognitif, efektif, dan psikomotor, Budiarjo (Sisca Folastri, 2013).
b.        Menggosok Gigi
Menggosok gigi adalah membersihkan gigi dari sisa makanan yang menempel, bakteri, dan plak. Membersihkan gigi harusnya melihat pelaksanaan waktu dalam membersihkan gigi, menggunakan alat yang cocok untuk membersihkan gigi, dan tata cara yang tepat dalam membersihkan gigi. Kebiasaan menggosok gigi merupakan perilaku manusia didalam membersihkan gigi dari sisa makanan secara terus menerus.
Menggosok gigi yang baik yaitu dengan gerakan yang pendek dan lembut serta dengan tekanan yang ringan, pusatkan pada daerah yang terdapat plak, yaitu tepi gusi (perbatasan gigi dan gusi), permukaan kunyah gigi dimana terdapat fissure atau celah-celah yang sangat kecil dan sikat gigi yang paling belakang. Menggosok gigi harus memiliki pegangan yang lurus, dan memiliki bulu yang cukup kecil untuk menjangkau semua bagian mulut. Menggosok gigi harus diganti setiap 3 bulan. Cara menggosok gigi yang baik adalah membersihkan seluruh bagian gigi, gerakan vertical, dan bergerak lembut  Ketika menggosok gigi, sangat penting menyikat semua permukaan gigi, yang mana akan memakan waktu kurang lebih 2-3 menit (Rahmadhan, 2010).
c.         Media audio visual
Media audio visual merupakan alat peraga yang bersifat dapat didengar dan dapat dilihat yang dapat membantu siswa dalam belajar mengajar yang berfungsi memperjelas atau mempermudah dalam memahami bahasa yang sedang dipelajari. Sedangkan audio visual adalah suatu peralatan yang dipakai oleh para guru dalam menyampaikan konsep, gagasan dan pengalaman yang ditangkap oleh indera pandang dan pendengaran.
Konsep pengajaran audio visual berkembang sejak tahun 1940. Istilah bermakna sejauh peralatan yang dipakai oleh para guru yang dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang ditangkap oleh indra pandang dan pendengar, penekanan utama dalam pengajaran audio visual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman kongkrit, tidak hanya didasarkan atas kata belaka, selanjutnya pengajaran dengan media audio visual dapat berarti bila dipergunakan sebagai bagian dari proses pengajaran, peralatan audio visual tidak harus digolongkan sebagai pengalaman belajar yang diperoleh dari pengindraan pandang dan dengar, tetapi sebagai alat teknologi yang bisa memperkaya serta memberikan pengalaman kongkrit kepada siswa.
Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Di samping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, dan mendatakan informasi.
A.    Ciri-ciri metode media visual :
1.      Media audio visual biasanya bersifat linier.
2.      Biasanya menyajikan visual yang dinamis.
3.      Digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang atau pembuatnya.
4.      Merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak.
5.      Dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan kognitif.
Peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Apabila diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

ANALISA PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL

Media yang digunakan dan cara penggunaannya :
·         Media yang digunakan :
1. Hand phone
·         Cara penggunannya :
Metode Audio Visual menggunakan Video yang diputar menggunakan Hand phone . Pemberian intervensi 7 hari berturut turut, dilakukan selama 2-3 menit.
·      Pendapat anak tentang lagu MOGIGU
Awalnya si anak tidak mengetahui tentang bagaimana cara menggosik gigi dengan baik dan benar berapa kali menyikat gigi dalam sehari dan berapa lama durasi menggosok gigi yang seharusnya, setelah si anak melihat video lagu MOGIGU si anak tertarik dan selama pemutaran video si anak fokus memperhatikan, setelah video selesai si anak di berikan penyuluhan cara menyikat gigi yang baik dan benar secara intens dan diberitahu untuk menyikat gigi dua kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
·         Pembahasan Dari Hasil Yang Diperoleh Dengan Menggunakan Media Audiovisual Tersebut (Oral Health Promotion Based On Audio Visual
WAKTU
DURASI MENGGOSOK GIGI
KETERANGAN
PAGI
MALAM
2 MENIT
< 2 MENIT
> 2 MENIT
27/9/19
28/9/19
29/9/19
30/9/19
1/10/19
2/10/19
   
ü   

ü   

3/10/19

Dari data diatas dapat disimpulkan si anak hanya bersemangat untuk menyikat gigi dua kali sehari hanya dua hari pertama, hari pertama dengan durasi <2 menit karena masih menyesuaikan hari kedua si anak mencoba menyikat gigi dengan durasi 2 menit, tetapi di hari ke 3 dan 4 si anak tidak menyikat gigi pada malam hari karena si anak merasa malas menyikat gigi tapi penyuluh tetap berusaha untuk mengajari dan mengingatkan untuk menyikat gigi dengan durasi 2 menit alhasil si anak menyikat gigi dua kalis ehari tetapi dengan durasi <2 menit karena si anak belum terbiasa dan merasa lelah membuka mulut, akan tetapi penyuluh akan berusaha agar si anak mempertahankan untuk menyikat gigi dua kali sehari dengan 2 durasi 2 menit.

·         Hasil evaluasi dengan aspek (Kognitif, Psikomotorik, Bahasa)
Aspek
Jenis kegiatan
Kognitif
Dengan memutarkan video tentang cara menggosok gigi yang baik dan benar  yaitu MOGIGU (menggosok gigi asyik dengan lagu).
Psikomotorik
Anak melakukan simulasi cara menggosok gigi selama 7 hari
Bahasa
Menggunakan kalimat sederhana dengan menyebutkan secara berulang dan mempraktikkan cara menggosok gigi sesuai dengan video mogigu


·      Teori perubahan perilaku menurut Rogers
Rogers menyatakan bahwa perubahan perilaku seseorang terjadi 5 tahap :
1.         Kesadaran (Awareness)
Anak diputarkan video cara menggosok gigi yang baik dan benar MOGIGU (menggosok gigi asyik dengan lagu).
2.         Ketertarikan (Interest)
Setelah anak melihat video tersebut, anak mulai tertarik .
3.         Evaluasi (Evaluation)
Anak akan berpikir apakah itu baik atau tidak untuk dirinya.
4.         Mencoba (Trial)
Kalau anak itu menganggap itu baik bagi dirinya dia akan mulai mencoba nya.
5.         Adopsi (Adoption)
Setelah dia mencoba, anak tersebut mulai menerima dan menjadikannya perilaku baru sehingga mulai menerapkan cara menggosok gigi yang baik dan benar setiap hari.

BAB III
Kesimpulan dan Saran

A.  Keseimpulan
Dalam pendidikan kesehatan gigi metode yang paling sering digunakan saat ini adalah audiovisual dikarenakan perkembangan teknologi saat ini dan metode ini juga sangat efektif untuk diberikan ke anak-anak karena dengan metode ini anak lebih tertarik dan lebih fokus, sehingga pendidikan kesehatan gigi tersebut berjalan efektif.
B.  Saran
Diharapkan kepada pihak terkait dalam hal ini kepala sekolah, guru ,orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi anak sehingga terciptanya peningkatan derajat kesehatan gigi.
  
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Kota Makassar, Kebersihan Gigi Tertinggi pada Puskesmas Anper, 2017

Folastri, Sisca, Keterampilan Menggosok Gigi, 2013

 Ika, Iwan, Penelitian Pengaruh Media Audio Visual (Video) Terhadap Hasil Belajar Siswa, 2014

Mikail. B, Candra, Definisi Gigi, 2011

Pratiwi, Upaya Kesehatan Gigi Ditinjau dari Aspek Lingkungan, Pengetahuan, Pendidikan,  2007

Rahmadhan, Cara Menggosok Gigi, 2010

Riset Kesehatan Dasar, Kesehatan Gigi dan Mulut, 2013

Sekar Arum, Dewi , Definisi Kebersihan gigi dan mulut, 2011

Sunariyo, Penelitian Pengaruh Metode Simulasi dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan, 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBAIKAN PELAYANAN BPJS

Sumber Gambar JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kerap menuai kritikan dari berbagai pihak ...